Ngegass tipis-tipis ke Monumen Van der Wick, Lamongan dan Sumur Minyak Tua Wonocolo Bojonegoro tahun 2017.

Ngegass tipis-tipis alias jalan-jalan ke Monumen Van der Wick, Lamongan dan Sumur Minyak Tua Wonocolo, Kedewan Bojonegoro tahun 2017. Tepatnya tahun baru 1 Januari 2017 kemarin KHS lagi bete dan galau akhirnya gas tipis-tipis sambil inreyen si Betet (Honda BeAT eSP CBS ISS tahun 2016). Awalnya nanya-nanya mbah google akhirnya dapat spot buat tombo galau ini dengan solo riding sekitar LGBT alis Lamongan, Gresik, Bojonegoro, Tuban. Yuuk disimak cerita jalan-jalan KHS ini gans…

Minggu (1/1) pagi iseng punya rencana jalan-jalan sendirian buat eskplorasi wisata yang belum tersinggahi. Akhirnya terpikirkanlah beberapa spot yakni Monumen Van Der Wijck di Brondong, Lamongan dan Teksas Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro. Akhirnya siang itu berangkatlah bersama si Betet melalui jalan deandles pantura yakni Gresik – Paciran. Sekitar jam 11.00 WIB keluar dari rumah dengan jaket dan helm Honda langsung menuju Manyar-Bungah-Sedayu dan Paciran. Dan disinilah wisata jeglongan sewu di Betoyo, Manyar, Gresik berada. Waktu tempuh yang mestinya 5 menit menjadi hampir 45 menit gans….

Setelah melewati dan berjibaku dijalan bergelombang plus padat merayap akhirnya bisa terbebas. Ruas jalan Manyar, Bungah feat Dukun tergolong alus mulus meskipun terlihat beberapa ada lubang kecil. Sesampai di sekitar Paciran kondisi padat merayap kembali karena WBL lagi puncak ramainya gans..maklum karena semua pada meramaikan libur tahun baru 2016.

Si Betet pun kembali saya pacu menuju spot pertama yakni Monumen Van Der Wijck dimana menurut petunjuk mbah google ada di sekitar Kantor Pelabuhan Brondong dekat Jembatan Sedayu Lawas. Sesampai disana KHS tolah-toleh kok gak kelihatan monumennya akhirnya sengaja masuk untuk bertanya kepada pak satpam yang sedang jaga. Ternyata lokasi monumen Van Der Wijck ada di belakang Pelabuhan Brondong atau TPI Brondong Lawas atau dibelakang pos polantas Brondong. Jadi KHS ceritanya kebablasan dari lokasi asli sehingga mesti balik lagi yang berjarak sekitar 2 km.

Ketika sampai di pos polantas brondong arah TPI Brondong, KHS sempat berhenti dan bertanya kepada petugas parkir yang kebetulan ada. Ternyata lokasi Monumen Van Der Wijck ini letaknya persis di belakang Pos Polantas Brondong ini. Terlihat tinggi menjulang monumen yang meningatkan jasa para nelayan Brondong dalam menyelamatkan penumpang Kapal Van Der Wijck ini. Monumen dominasi warna abu-abu ini terlihat kusam tanpa perawatan dan sampingnya ada semak belukar.

Mengutip wikipedia.org, Monumen Kapal Van der Wijck dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Persisnya di jalan raya gresik tuban Sedayu Lawas, Brondong, Lamongan, Jawa Timur.

Cerita sekilas terkait Monumen Van Der Wijck ini yakni pada 28 Oktober 1936 di pesisir utara Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal Belanda Van der Wijck tenggelam, sebuah peristiwa yang mengilhami novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck oleh Hamka. Kapal mewah yang dibuat di galangan kapal Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921 merupakan kapal milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam. Tahun 2013, sebuah film mengangkat cerita tenggelamnya kapal tersebut berdasarkan buku Hamka dengan judul yang sama.

Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa herois tersebut dan menghormati jasa nelayan.

KHS sempat bertemu dengan salah seorang petugas kebersihan TPI Brondong yang kebetulan sedang beristirahat di sekitar monumen. Dia menjelaskan memang monumen ini kurang terawat dan tidak ada acara-acara tertentu setiap tahunnya. Tentu hal ini sungguh disayangkan karena ini bagian dari sejarah jiwa besar nelayan di Brondong ini. Sayang KHS lupa nama petugas kebersihan yang menemani ngobrol ini tapi sempat foto bersama kok…hehehehe. Sempat masuk ke TPI Brondong untuk melihat aktivitas nelayan dan pasar jual beli ikan segar yang sangat ramai tersebut.

Sekitar jam 14.45 WIB KHS melanjutkan perjalanan ke arah barat menyusuri jalan Deandles ini. KHS tidak melewatkan sesi foto di jembatan Sedayu Lawas yang ikonik ini meskipun ini sudah untuk kesekian kalinya. Bedanya kali ini KHS bersama si Betet yang kinyis-kinyis….hehehe. Lanjut gas lagi menyusuri jalanaan raya Palang, Tuban yang berada di pinggir pantai. Sebelum mengarah ke arah Pakah mampir dulu isi bengsin dengan bakso di pertigaan Jl. Pakah – Rembes. Cukuplah seporsi bakso, lontong, kerupuk dan segelas es degan untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan sejak siang.

KHS pun melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalur Rembes (Palang) – Pakah yakni menuju kearah selatan.  Jalanan Rembes – Pakah ini tergolong mulus bahkan ditengah hutan juga telah dicor sehingga tidak mudah rusak. Tahun 2012 silam KHS sempat lewat sini namun jalannya sungguh memprihatinkan namun saat lewat kemarin joss gandoss alias mantabz.  Tak lupa pula untuk foto selfie ditengah hutan dengan kontur jalanan mulus ini. Ini merupakan jalaur alternatif dari Palang menuju Rengel atau Bojonegoro mantemasn.

Sempat hujan sebelum sampai Pakah sehingga KHS memutuskan merapat digubuk tua tengah hutan. Sepertinya gubuk ini untuk lapak jualan warga sekitar yang disediakan bagi pengguna jalan. Oia didepan gubuk tua ini terdapat akses menuju Makam Sunan Geseng yakni desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Yah gak ada salahnya juga selfie lagi…xixixixi

Hujan sudah mereda sehingga KHS melanjutkan perjalanan menuju Pakah, Plumpang dan berakhir di Rengel. Ini merupakan jalur kebiasaan ketika KHS pulang kampung yang ada di Desa Kenongo Sari, Soko – Tuban.  Di sekitar Rengel terdapat pemandangan pegunungan kendeng sehigga memaksa KHS untuk berselfie ria bersama si Betet. 

Akhirnya sampai rumah dimana disini KHS dilahirkan dan dibesarkan. Masuk rumah ucap salam, cium tangan emak dan berlanjut dengan bersih-bersih badan. Dilanjutkan dengan ngobrol sebentar,sholat dan langsung tepar di dipan. Hehehehe….badan kesel poll gans karena sudah lama tidak ngegass….

Minggu, 2 Januari 2016 suara adzan subuh membangunkan KHS yang masih terlelap dalam mimpinya. Bangun langsung absen pagi dan dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol sama emak sambil nunggu menanak nasi. Sekitar jam 06.30 WIB sudah siap sarapan dan dilanjutkan dengan jalan-jalan ke Teksas Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro.

Jarak antara Wonocolo dan kampung KHS sekitar 50 km. Berhubung ini pengalaman pertamax maka KHS hanya mengandalkan mbah google maps untuk menuntun menuju kesana. Bermula dari kampung KHS langsung menuju Bojonegoro, Kalitidu dan menuju Kedewan. Sempat was-was salah arah dengan dengan melihat aktivitas warga naik motor dengan membawa jerigen kanan kiri menguatkan asumsi KHS bahwa ini memang jalur menuju Wisata Sumur Minyak Tua di Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro.

Akses menuju kesana beragama mulai dari medan makadam, jalanan aspal, jalanan cor-coran hingga jalan berlubang yang kayak offroad. Jalanan menanjak lumayan namun si Betet mampu melahap dengan sempurna. Menuju ke titik Teksas Wonocolo ini kita akan disuguhi aktivitas penambangan minyak baik dari pertamina maupun warga sekitar sendiri.

Ada gapura selamat datang di di kawasan sumur tua kedewan, Bojonegoro. Jarak dari sini menuju titik pemandangan Teksas Wonocolo sekitar 3 km yang dipenuhi dengan jalan berbatu dan sedikit offroad dan menanjak. Diperlukan kesabaran ekstra dan waspada dengan muncul-muncul mobil-mobil pengangkut alat berat.

Setelah bersusah payah akhirnya sampai juga di titik ikon “Teksas Wonocolo”, Bojonegoro dengan puncaknya. Akses menuju kesini sepertinya rawan longsor medannya sehingga mesti hati-hati. Disini ada simbol-simbol pemandangan dan juga tempat untuk kongkow-kongkkow menikmati pemandangan sumur minyak tua.  Oia disini juga ada warung gans…jadi dijamin gak kelaparan ditengah pegunungan….hehehe.

Teksas Wonocolo ini merupakan daerah penambang minyak tradisional yang ada di Bojonegoro. Kok mirip Texas di Amrik sono ya? yang sama-sama daerah penghasil minyak bumi. Teksas disini merupakan akronimi dari Tekad Selalu Aman dan Sejahtera ide dari Kang Yoto selaku Bupati Bojonegoro. Wisata sumur tua ini merupakan juga wisata geo park yang ada di Bojonegoro dimana setidaknya terdapat 250 sumur minyak dan gas bumi tua di desa Wonocolo ini.

Puas berfoto dan sedikit mengabadikan aktivitas penambangan di sumur minyak tua ini, KHS sempat nongkrong diwarung. Ternyata di sekitar Wonocolo ini juga sering ada event-event cross alias offroad membelah pegunungan kapur ini gans. 

KHS pun turun gunung dan melanjutkan perjalanan untuk pulang menuju bumi wali Gresik. Pulang sekitar jam 12.00 WIB menuju kearah timur dengan menyusuri jalanan Bojonegoro, Sumberjo, Babat, Lamongan dan berakhir di Gresik.  Sampai di gresik sekitar jam 16.00 WIB dengan kondisi pulang pergi selamat alias zero accident. Perjalanan ini di odometer si Betet sekitar 305.7 km yang ditempuh dengan riang dan gembira sepanjang perjalanan….hehehe

Demikian mantemans cerita singkat KHS mengobati galau ngegas..alias gas tipis-tipis awal tahun 2017 bersama si Betet dengan mengunjungi Monumen Kapal Van Der Wijck di Brondong, Lamongan dan Sumur Minyak Tua di Teksas Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro.

Maturnuwun

baca juga :

 

***\Contact KHS Go Blog/***
Main blog : http://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

*" Yuuuk like & share brosis...."*
-----

Comments

comments

Monggo dikomeng gans..

Translate »