Membelah Lautan Pasir Bromo

Berbicara Bromo bagi sebagian besar mungkin biker tidak asing lagi. Eksotisme alam dan sensasi sunrise menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Telah banyak tulisan, reportase maupun postingan terkait perjalanan ke gunung yang ada di Jawa Timur ini. Namun begitu ijinkanlah nubi menuliskan pengalaman pertamax membelah lautan pasir Bromo pada kesempatan kali ini. Semoga tidak jenuh  dan bosan-bosan membacanya.

Bersama Gresik Pulsar Community (GPC) pada liburan panjang kemarin 24-25 Maret 2012 ane berkesempatan mencicipi sensasi gunung yang ada ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut ini. Hari sabtu (24/3) sekitar 17 motor pulsar telah berkumpul di bunderan Gresik Kota Baru (GKB) untuk bersiap berangkat.  Setelah diawali dengan do’a dan rute yang disepakati akhirnya rombongan berangkat tancap gas pada pukul 09.03.  Rute berangkat disepakati yakni Cerme-Krian-Mojosari-Ngoro-Gempol-Pasuruan-Probolinggo-Cemorolawang-Bromo.

Oia kawan sekilas informasi, Gunung Bromo ini masuk dalam daftar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Penduduk asli sekitar Bromo merupakan suku tunggu yang mempercayai gunung Bromo (Brahma) sebagai gunung suci. Oleh karena itu diadakan upacara pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Ada empat pintu gerbang utama untuk memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yaitu: desa Cemorolawang jika melalui jalur Probolinggo, desa Wonokitri dengan jalur Pasuruan, desa Ngadas dari jalur Malang dan desa Burno adalah jalur Lumajang. Adapun rute yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut: Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km, Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 kmAtau dari Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km.

Jam 12.35 rombongan merapat di Rumah Makan Tongas Asri untuk mengisi BBM perut siang hari. Perjalanan dari Gresik hingga Pasuruan terbilang lancar hingga di sekitar wilayah Pasuruan-Probolinggo (lupa daerahnya) terjadi kemacetan agak parah karena ada perbaikan jalan raya disisi sebelah kanan. Setelah sholat dahulu rombongan baru memesan makan. Agar tidak terlalu lama nunggu akhirnya disepakati banyak yang pesan rawon dan es teh saja…hehehe. Disini ketemu dengan rombongan teman-teman pulsar dari BIG, Pussycat dan Power Jakarta.

Sekitar jam 13.25 perjalanan dilanjutkan dengan melewati Tongas- Jalan Cemorolawang-Sukapura. Disepanjang perjalanan terlihat beberapa gundukan tanah dan sisa-sisa longsoran ditebing. Berhubung rombongan ada yang tercecer di belakang maka disepakati istirahat dahulu. Sekitar jam 15.01 rombongan sudah sampai di lokasi Gunung Bromo yang ternyata cukup ramai dengan kehadiran klub-klub motor diantaranya N250R. Oia kawan di Bromo inilah ane melihat dengan mata kepala sendiri motor-motor besar untuk turing seperti GS, BMW, Husqvarna, dan KTM. Maklum wong ndeso ini tahunya hanya dari televisi dan dunia maya saja jadi surprise lah…hehehe (insyaAllah posting terpisah postingannya yah…full pict. 😛 ).

Sekitar jam 15.32 rombongan turun kebawah untuk mencari vila untuk beristirahat. Alhamdulillah tidak jauh dari lokasi Bromo dapat sebuah vila setelah melalui proses diskusi dan negoisasi pengurus GPC. Setelah menaruh barang maka sore itu ane dan beberapa teman GPC tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Turun ke lautan pasir dan melihat pura dan kawah Bromo. Sore itu cuaca sangat cerah sehingga mendukung untuk jalan-jalan di sekitaran Bromo.

Beberapa kawan sore itu ada yang mencoba burning out pulsarnya…hehehe alias menancapkan ban kedalam pasir bromo sehingga tidak perlu menyetandarkan motornya. Hasilnya beberapa motor kawan tertancap sempurna. Ane sendiri dengan beberapa teman menuju puncak Bromo yang ada kawahnya.  Berhubung sore hari maka ane bisa menggeber dan menikmati sensasi tanjakan pasir menuju puncak kawah. Setelah sampai lokasi ternyata cukup berat dan pegal untuk menaiki tangga yang tingginya sekitar 50 meter ini.  Ane sendiri ngos-ngosan untuk menaiki tangga yang beberapa sudah patah akibat hujan dan erupsi debu ini. Namun begitu dengan istirahat sekitar 4 kali alhamdulillah bisa sampai dipuncak dan melihat kawah bromo yang selama ini dipakai upacara kasada…hehehe. Jeprat-jepret deh….

Berhubung matahari sudah kembali ke peraduan maka kami putuskan untuk segera turun ke bawah. Hal ini karena jalan menuju puncak ini di beberapa ruas terdapat longsoran dan pasir-pasir yang ‘menantang’ sehingga khawatir terpeleset.  Alhamdulillah sekitar jam 18.04 kami sudah sampai di villa.

Berkaitan dengan keinginan untuk menikmati sensasi udara dingin Bromo maka ane memutuskan untuk tidur di tenda kecil. Terima kasih untuk paketu GPC kaji dodik yang telah memfasilitasi keinginan  nyeleneh ini di depan villa dengan mendirikan tenda dan menyedikan matras. Alhasil semalam itu benar-benar merasakan sensasi dinginnya  udara Bromo sehingga beberapa kali terjaga dan terusik dengan dekapannya.  Hal ini diperparah lagi ketika jam 2 pagi jalanan sudah ramai dan bising dengan kendaraan yang ingin ke Penanjakan untuk melihat sunrise. Akhirnya tidur malam itu tidak senyenyak malam kemarin…hehehehe 😀 .

Minggu (25/3) jam 04.23 ane sudah bangun untuk sekaligus absen subuh kepada Sang Maha Kuasa. Mendengar dan melihat deru mesin ke Penanjakan malam itu membuat ane mengurungkan niat untuk ikut kesana. Bisa dipastikan ramai dan padat dimana justru tidak bisa menikmati sunrise. Namun begitu ane juga merasa menyesal tidak bisa melihat sunrise padahal cuaca pagi itu sangat mendukung. InsyaAllah lain waktu….amin.

Pagi itu sangat ramai karena memang liburan panjang. Terlihat banyak klub-klub atau komunitas baik sepeda gunung, sepeda motor maupun jeep atau angkutan pariwisata. Dan pagi hari itu pula ane bertemu lagi dengan BMW dan Kawasaki ZX6R ketika menuju warung makan. Walah tambah ngiler ae…xixixi.

Jam 08.00 pagi itu rombongan GPC turun ke padang pasir untuk bertatap muka dengan beberapa kawan yang hadir dalam Kopdargab klub Bajaj Jawa-Bali-Lombok. Ane sendiri sempat melihat beberapa kawan klub dari Bali, Lombok, Bandung dan Jakarta (lupa nama klubnya). Pagi itu pula ketemu dengan babe yusuf Power Jakarta dan juga pak de moktar sesepuh pulsar Gresik..hehehe. 😀

Sekitar jam 10.11 diputuskan untuk pulang melewati jalur Pasuruan (Wonokitri) atau Penanjakan.  Secara tidak langsung maka semua motor harus berjibaku melawan pasir bromo dan parit-parit kecil yang terbentuk akibat hujan. Ane sendiri sempat kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lautan pasir Bromo ini.  EG  sempat bengkok dan bisa dikembalikan seperti semula. Ketika menuju pintu tanjakan kembali kami ketemu dengan motor besar BMW, GS dan KTM yang sedang ada agenda Bromo Enduro (sekali lagi posting terpisah yah…xixiixi).

Ketika melewati penanjakan ini ane sempat was-was dan agak ragu karena jalanan agak sempit, kondisi jalan rusak di beberapa ruas dan kadang harus berbagi jalan dengan mobil jeep. Alhamdulillah bisa melalui tanjakan ini seperti ketika menuju Air Terjun Dolo Kediri (postingan disini). Meskipun begitu ada beberapa kawan yang motornya agak trobel dan ada juga yang ngojek…hehehehe. Motor yang trobel itu sedikit bisa teratasi dengan adanya bro andik mekanik bajaj dari Nganjuk ini.

Perjalanan dilanjutkan setelah istirahat sebentar dan istirahat lagi di persimpangan menuju Wonokitri dan Penanjakan. Ane sempat memfoto beberapa papan penunjuk yang rusak akibat terjangan alam. Sensasi melewati wonokitri begitu indahnya dengan meliuk-liuk jalanan sambil melihat alam pegunungan. Rombongan berhenti lagi di terminal desa Wonokitri untuk menunggu kawan-kawan yang lain diatas yang lagi istirahat. Kondisi jalanan sepanjang dilalui terdapat gundukan-gundukan tanah sisa longsoran seminggu sebelumnyaakibat hujan deras.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri Wonokitri dan berhenti kembali di masjid Nongkojajar untuk melaksanakan sholat dhuhur. Selain itu juga untuk istirahat dan meregangkan badan kembali. Pukul 13.50 perjalanan dilanjutkan hingga sampai di pertigaan besar jalan arah purwodadi-lawang-malang. Rombongan menepi kembali di sekitaran jalan sebelum Pandaan (lupa namanya) untuk makan siang bersama di warung sederhana. Sekitar pukul 15.30 perjalanan pulang dilanjutkan. Berhubung ane dan beberapa teman ketinggalan didepan maka rute pulang ini kembali seperti rute awal ketika berangkat yakni lewat Ngoro-Mojosari-Krian-Cerme dan Gresik. Alhamdulillah tepat adzan maghrib berkumandang ane dengan selamat telah memasuki rumah. Sebuah perjalanan yang melelahkan sekaligus mengasyikkan.

Demikian kawan RR ngukuri dalan ketika long weekend kemarin. Terima kasih untuk semua kawan-kawan GPC atas kesempatan yang diberikan. Selain itu maturnuwun juga untuk anak istri yang telah merelakan waktunya bersama keluarga. Dan terutama alhamdulillah untuk Gusti Allah yang telah memberikan keselamatan perjalanan baik berangkat maupun pulangnya.

Maturnuwun.

*Dirangkum dari berbagai sumber

baca juga :

***\Contact KHS Go Blog/***
Main blog : http://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

*" Yuuuk like & share brosis...."*
-----

Comments

comments

26 Comments

Monggo dikomeng gans..

Translate »