Sisi lain ESEMKA …

Minggu-minggu ini seluruh halaman berita ditanah air lagi euphoria tentang ESEMKA. Sebuah mobil buatan anak sekolah dalam negeri  yakni produksi SMKN 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta.  Mobil ini semakin popular ketika dengan lantang  Walikota Solo Joko Widodo mengatakan bahwa mobil ini akan digunakan sebagai kendaraan dinas.  Selanjutnya banjir order dan pesanan dari pejabat publik ini mulai dari politisi di Senayan, pengusaha,  hingga para menteri yang jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Sebenarnya Esemka lahir di Tahun 2009 melalui program nasional Direktorat Pembinaan SMK Kementrian Pendidikan Nasional yang menunjuk lima SMK sebagai pelopor pembuatan. Yakni SMK 1 Singosari, SMK 6 Kota Malang, SMK 10 Kota Malang, SMK 4 Kota Malang, dan SMK Muhammadiyah II Magelang. Selanjutnya SMK lain di nusantara mengadopsi dan mengembangkan prototype  ini termasuk SMKN Surakarta diatas. Mungkin kita pernah mendengar Esemka Digdaya dan Rajawali.

Sebenarnya publik sudah tahu keberadaan Esemka namun masih sebatas mengagumi. Namun  cara yang lebih maju selangkah ditunjukkan oleh orang nomor satu di Surakarta. Terlepas dari kontroversi dan  dukung mendukung yang jelas proyek ini perlu mendapatkan apresiasi bersama dari seluruh pelosok negeri sembari ada perbaikan dan pembenahan tentunya.  Semoga tidak seperti mobil Timor yang sekarang sudah tidak terdengar lagi. Dengan harga yang kompetitif bukan hal mustahil Esemka bisa menjadi kendaraan nasional alias mobil nasional (Mobnas).

Terlepas dari euphoria diatas ane hanya prihatin terkait dengan para mekaniknya alias siswa-siswa yang bersangkutan. Lha mereka mau sekolah atau jadi ‘pekerja’ buat mobil diatas. Semestinya pemerintah juga harus merespon hal ini. Apalagi ditengarai 1 mobil digarap dan diselesaikan dalam waktu 4 bulan. Terus bagaimana sekolah mereka???????.  Mereka mau sekolah atau bekerja? Walaupun sebenarnya 2 hal ini bisa berjalan dengan proporsionalitas yang disesuaikan. Berapa upah yang mereka terima? apakah UMR atau bahkan diatasnya? (jangan dilupakan lho hak gajinya).

Semestinya ada pemodal atau investor yang melakukan take over terhadap  minat yang tinggi ini. Kasihan kalau anak-anak yang harus terjun langsung untuk ‘memuaskan hasrat’ para petinggi di negeri untuk sekedar ‘numpang’ terkenal.  Maap kawan kalau ngelantur,,,yang jelas jangan mendzolimi hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan mereka.


NB : jangan pakai alesan kan mereka kerja praktek….(masak kerja praktek kok terus-terusan) :cry

*dirangkum dari berbagai sumber, gambar : http://iwandahnial.files.wordpress.com/2012/01/2-esemka

baca juga :

***\Contact KHS Go Blog/***
Main blog : https://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

*" Yuuuk like & share brosis...."*
-----

Comments

comments

About setia1heri 3893 Articles
Seorang bapak dengan 2 anak. Suka jalan-jalan dan corat-coret tulisan perjalanan. Hobi berkendara menunggang roda dua. Tak paham kuliner namun tidak ada makanan yang dicela alias doyan semua...hehehe. Maturnuwun. follow twitter : @ setia1heri

10 Comments

  1. pemerasan tenaga kerja,… dibalik dukungan seolah prestasi namun menjebloskan kedalam jurang entah berantah,….kasian anak-anak ini…. dan ane sependapat dengan ente mas bro,….

  2. tentunya ada proses pemutahiran ilmu bagi mereka, setelah lulus mrk bekerja, ikut perakitan, trus sekian tahun ada penjejangan pendidikan utk yg lebih tinggi..pasti sudah dipikirkan tentang hal itu..
    krn Pak M. Nuh sendiri yg mendukung yang notabene mantan rektor ITS merupakan person yang sangat konsen terhadap pendidikan. ane yakin beliau pasti punya konsep mengenai itu..

    nitip kang..
    http://boerhunt.wordpress.com/2012/01/06/seputar-standar-emisi-euro-injeksi-vs-karbu-bagaimana-strategi-pabrikan-menyikapinya-bag-ii/

    • capek bukan masalah buat kami,
      antusias adalah modal kami,
      tidak ada kata capek untuk menambah keterampilan,

      “kapan giliran kami ? kami juga ingin, kami siap lembur sepulang sekolah demi menambah wawasan kami,

Monggo dikomeng gans..