About these ads

Arsip

Posts Tagged ‘Kota Layak Anak’

Capacity Building Forum Anak Surabaya

Desember 9, 2012 6 komentar

Forum Anak Surabaya

Bertempat di Aula Kantor Bapemas dan KB Kota Surabaya dilaksanakan Capacity Building Forum Anak Surabaya Tahun 2012. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 November 2012 yang diikuti berbagai delegasi dari sekolah maupun forum anak tingkat kecamatan.  Acara dipandu oleh fasilator Bapak Nanang Chanan, praktisi forum anak dari Wahana Visi Indonesia Urban Surabaya dan Wiwik Afifah, praktisi anak juga dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur.

Peserta yang hadir dalam Capacity Building FAS ini berasal dari beberapa perwakilan anak diantaranya SMP Bahrul Ulum, SMPK St. Agnes, SMP Hang Tuah 1, MTs Ittaqu, SMP Muhammadiyah 2, SMPN 1, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 9, SMPN 10, SMPN 19, SMPN 20, SMPN 25, SMPN 33, SMPN 43, SMPN 45, SMPN 46, SMK Kawung 2, SMK GIKI 1, SMK Pawiyatan, SMK PGRI 1, SMKN 1, SMKN 2, SMKN 5, SMKN 8, SMKN 9, SMA Gema 45, SMA Bhayangkari 2, SMA 17 Agustus 1945, SMA Hang Tuah 1, SMA Kemala Bayangkari 1, SMA Antartika, SMAN 5, SMAN 10, SMAN 17, SMAN 18, Forum Anak kec. Semampir, Forum Anak D’Bajay, Forum Anak kec. Pabean Cantikan dan Forum Anak kec. Tandes.

FAS SurabayaSelama sehari  para peserta capacity building digembleng dengan materi-materi keorganisasian dan terkait forum anak sendiri.  Maklum capacity building Forum Anak ini sekaligus sebagai up grading dan revitalisasi Forum Anak Surabaya. Dalam sesi terakhir mereka diberikan kewenangan sendiri untuk membentuk pengurus FAS periode  2012-2013 dengan mekanisme yang telah disepakati diantara mereka.  Dan akhirnya terpilihlah pengurus FAS periode 2012-2013 sebagai berikut

Pengurus Forum Anak Surabaya Periode 2012-2013

Ketua : Widya (SMA Kemala Bayangkari I), Wakil : Marcello (SMPN 25), Sekretaris : Dyanis (SMPN 1), Bendahara : Melinda (SMAN 5), Koordinator Bidang Jejaring : Rena (SMKN 5), Refandi, Monica Nur Aidha, Koordinator bidang  Penguatan : Sabtunur (FAS kec. Semampir) , Desy Rosmauli, Uswatun Hasanah, Novalia Puspitasari, Fitriana, Koordinator  Minat Bakat : Amelia Rizka (SMK Pawiyatan), Lutfiana, Bilqis, Fery Setiawan, Koordinator Bidang Humas: Adjeng Rory (SMPN 33), Choirul Sintia, Elvan Bramastya, Yola Berliana.

Semoga pengurus baru Forum Anak Surabaya periode 2012-2013 mampu membawa  aspirasi dan partisipasi anak Surabaya dalam rangka pembangunan kota menuju Surabaya Kota Layak Anak. Honesty , Love , Respect, Responsiblity, dan Cooperation…

Maturnuwun

baca juga :

About these ads

Sosialisasi Perda anak di tingkat kecamatan

Seperti yang ane posting terdahului (postingan disini) mengenai sosialisasi peraturan daerah kota Surabaya no 6 tahun 2011 tentang penyelenggaraan perlindungan anak dengan peserta para guru dan kepala sekolah. Maka pada kali ini beberapa kecamatan mengadakan inisiatif untuk sosialisasi ditingkat kecamatan dengan peserta kader dan masyarakat tingkat kecamatan. Ane sendiri sempat mendapatkan mandate untuk menyampaikan sosialisasi di kecamatan Tegalsari.

Bersama dengan kawan dikantor ane mengisi acara sosialisasi ini. Sosialisasi dilaksanakan pada hari selasa, 12 Juni 2012 di aula kecamatan setempat. Peserta yang hadir berasal dari kader-kader dan kasie kesra dari 5 kelurahan yakni Kelurahan Kedungdoro, Keputran, Tegalsari, Dr. Soetomo dan Wonorejo.  Berhubung tidak banyak peserta maka sambil menunggu peserta lain datang acara tetap dimulai setelah dibuka oleh kasie kesra kecamatan.

Ada dua materi yang kami sampaikan yakni menggaungkan isu isu Menuju Surabaya Kota Layak Anak dan esensi dari perda no 6 tahun 2011 ini.  Ane sendiri kebagian menyampaikan materi menuju Surabaya kota layak anak. Dimana ane mengawali terlebih dahulu dengan definisi anak, hak-hak anak dan lokus yang menjadi isu kota layak anak.  Inti dari kota layak anak adalah adanya jaminan mengenai pemenuhan hak-hak anak yang terdiri dari 5 kluster (konvensi hak anak) yakni (1).Hak sipil dan kebebasan, (2).Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, (3.)Kesehatan dasar dan kesejahteraan, (4.)Pendidikan,pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya dan (5.) Perlindungan khusus.

Materi selanjutnya merupakan esensi perda perlindungan anak dimana didalamnya terkait sekali dengan isu Menuju Surabaya Kota Layak Anak. Kalau terkait isinya bisa dilihat dipostingan sebelumnya kemarin (postingan sama dengan di atas) sedangkan yang ane bahas disini adanya pasal terkait Gugus Tugas Kota Layak Anak. GT KLA inilah yang akan mengomandoi berjalannya Surabaya Kota Layak Anak sekaligus sebagai sarana komunikasi pengembangan Surabaya kota layak anak.

Tidak terasa hampir 3 jam kita memberikan sosialisasi yang lumayan mendapatkan respon dari peserta. Tidak sedikit yang memberikan umpan balik dan pertanyaan cerdas terkait mewujudkan Surabaya Kota Layak Anak hingga tingkat Kecamatan dan Kelurahan bahkan tingkat RT atau RW. Semua yang hadir mempunyai komitmen untuk mendukung pemenuhan hak-hak anak dalam rangka mewujudkan Surabaya kota layak anak di berbagai tingkatan.

Mari mewujudkan Surabaya kota layak anak…

baca juga :

Taman responsive anak…

Oktober 4, 2011 2 komentar

Taman responsive anak…

Hampir dipastikan diseluruh kota di Indonesia terdapat taman-taman kota di dalamnya. Beragam konsep dan bentuk taman yang ditawarkan, yang jelas ruang terbuka (hijau) ini sangat diperlukan terutama bagi anak-anak. Tidak sekedar menghias kota saja akan tetapi bagaimana keberadaan taman ini bisa menjadi sarana rekreatif sekaligus edukatif bagi tumbuh kembang anak-anak.  Di Surabaya sendiri terdapat belasan taman-taman kota mulai taman Bungkul, taman Flora, taman Prestasi, taman Mundu, taman Lansia serta beragam taman-taman yang lain. Setiap taman mempunyai tawaran dan spesifikasi yang berbeda terngantung konsepnya.

Keberadaan ruang publik ini sangat diharapkan oleh masyarakat. Ruang terbuka hijau ini bisa digunakan refreshing sekaligus family gathering. Sebuah suasana yang mampu membangun kedekatan emosional antara orang tua dengan buah hatinya. Namun sayang kadang kebanyakan taman ternyata tidak responsive anak dan lebih sering digunakan untuk pacaran muda-mudi yang agak kelewatan.  Ane sangat apresiate dengan kebijakan pengelola Taman Flora (Kebun Bibit) Surabaya yang senantiasa mengingatkan pengunjung melalui pengeras suara agar tidak pacaran di taman karena taman tersebut adalah taman keluarga. Keberadaan muda-mudi yang pacaran kelewatan dianggap akan mengganggu tumbuh kembang anak-anak yang berada di taman.

Taman yang responsive anak setidaknya mengakomodir kebutuhan dan keinginan anak seperti wahana permainan, taman baca, kondisi toilet yang peduli anak, bentuk fisik yang tidak membahayakan anak serta ketersediaan air minum bersih yang bisa langsung diminum. Di beberapa sudut kota Surabaya sudah menerapkan konsep taman tersebut sebagai sarana untuk mewujudkan Surabaya Kota Layak Anak.

Kalau di Gresik sendiri sarana Ruang Terbuka Hijau salah satunya adalah Bunderan Gresik Kota Baru (GKB). Di tempat inilah kadang sabtu pagi atau minggu sore ane bercengkrama dengan anak dan istri walaupun hanya duduk-duduk melihat lalu lalang kendaraan bermotor. Disini wahana permaian sudah tersedia bagi anak walaupun beberapa bagian sudah rapuh dan pecah-pecah seperti bandulan, prosotan, dan ‘timbangan’.  Sebagai gantinya disini terdapat juga perputaran bisnis yang berkaitan dengan anak seperti arena permainan mancing, sewa mobil-mobilan, dan beragam jajanan kuliner yang lain.  Kita berharap pemerintah kabupaten Gresik bisa merespon keberadaan taman yang responsive anak di Gresik. Anak adalah generasi penerus peradaban ini…

Sosialisasi GD SKLA

Sosialisasi GD SKLA

Dengan segenap potensi yang dimiliki, Kota Surabaya mampu mewujudkan Surabaya Kota Layak Anak (SKLA). Sebelumnya bulan Juni 2010 kemarin telah dilakukan Inisiasi menuju SKLA dan juga deklarasi menuju SKLA di Taman Bungkul. Sebuah komitmen bersama dari pemerintah kota, masyarakat, swasta dan LSM untuk menghadirkan Surabaya yang ramah anak.

Pada hari Rabu (25/5) bertempat di  Warung Makan Taman Apsari diselenggarakan Sosialiasi Grand Desain Surabaya Kota Layak Anak (GD SKLA). Sebuah road map lima tahun kedepan untuk mewujudkan SKLA. Sebagai Pembicara Ibu Rini dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan M. Isa Anshori dari Hotline Pendidikan Jawa Timur. Ibu Rini lebih banyak berbicara mimpi Indonesia dan tahapan yang harus dipenuhi untuk menuju Idola (Indonesia Layak Anak) sedangkan M. Isa Anshori lebih banyak memaparkan base line data penelitian tentang potensi anak di Surabaya.

Berbicara Kota Layak Anak, maka ada beberapa kluster yang harus dipenuhi yakni (a) Hak sipil dan kebebasan; (b) Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; (c) Kesehatan dasar dan kesejahteraan; (d) Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya; dan (e) Perlindungan khusus.

Dalam GD SKLA semua kluster diatas mencoba untuk dirumuskan bagi anak Surabaya. Sebuah kerja bareng antara pemerintah kota, masyarakat, swasta dan LSM Peduli Anak untuk mewujudkan Surabaya Kota Layak Anak. SKLA adalah tanggung jawab bersama…

baca juga :

Rakor PUG dan PUHA..

Rakor PUG dan PUHA..

Sebenarnya ini kegiatan sudah dua minggu yang lalu yakni tanggal 6-8 April 2011 di Hotel Utami Sidoarjo. Ane ditugaskan sama pimpinan untuk mengikuti rapat koordinasi Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) Provinsi Jawa Timur. Hal ini memang masuk bidang ane di kantor yakni bidang Pemberdayaan Perempuan. Peserta yang di undang dalam kegiatan ini adalah bappeda kab/ kota dan dinas yang mengurusi Pemberdayaan Perempuan.

Banyak materi dan ilmu yang ane dapatkan dalam rakor ini. Beberapa pemaparan dari dinas kesehatan jawa timur, disnaker jawa timur sebagai percontohan yang telah melaksanakan anggaran responsive gender (ARG). Sedangkan pemateri berasal dari Pusat Studi Wanita Universitas Airlangga yakni bu tri sama bu endah.  Sedangkan dalam kerangka PUHA, UNICEF memaparkan terkait dengan komitmen bersama dalam mewujudkan Kota Layak Anak.

Isu gender dan isu hak anak merupakan hal hangat dibicarakan dalam Negara kita. Hal ini terbukti dengan adanya kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Terlepas dari kinerja yang ada kita patut mengapresiasi komitmen pemerintah ini.

Mungkin ada beberapa yang tidak paham ‘panganan’ apa itu gender atau bahkan beberapa ada yang alergi dengan istilah itu. Secara sederhana gender itu adalah kontruksi sosial atau pandangan masyarakat terkait PERAN laki maupun perempuan dalam kehidupan masyarakat. Karena selama ini masih banyak ketimpangan gender, ketidakadilan gender, bias gender bahkan netral gender di masyarakat. Dan perlu digarisbawahi bahwa isu gender tidak serta merta masalah PEREMPUAN saja.

Sedangkan isu PUHA selama ini yakni menuju Kab/Kota Layak Anak. Berbicara Kota Layak Anak maka ada beberapa kluster sebagaimana Konvensi Hak Anak (KHA) yakni (a) hak sipil dan kebebasan; (b) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; (c) kesehatan dasar dan kesejahteraan; (d) pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya; dan (e) perlindungan khusus.

Mari wujudkan kesetaraan gender dan penghormatan dan penghargaan terhadap hak-hak anak. Keseteraan gender jangan diartikan sempit dengan arti sama rata sama rasa. Sedangkan hak-hak anak perlu kita perhatikan semua.

baca juga :

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.753 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: