About these ads

Archive

Posts Tagged ‘Grojogan sewu’

Mampir di Gua Ngerong, Rengel, Tuban.

September 6, 2013 16 comments

latitude gua ngerong-rengel-tubanBagi manteman di sekitaran Tuban dan Bojonegoro tentu tidak asing dengan wisata alam yang berada di pinggir jalan arah Bojonegoro-Tuban via Rengel ini. KHS sendiri sudah beberapa kali mampir di wisata alam ini sedangkan kemarin ketika mudik lebaran (11/8) menyempatkan mampir dulu bersama keluarga sebelum bertolak ke Gresik. Kalau dari kampung KHS yang ada di desa Kenongo Sari, Soko hanya sekitar 10 km atau kalau perjalanan dengan motor tidak lebih dari 20 menit menuju wisata goa Ngerong yang ada di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Gua ngerong merupakan wisata alam yang didalamnya terdapat gua dimana dibawahnya mengalir air yang jernih, beragam ikan didalamnya serta ribuan kelelawar yang bergantungan di langit-langit gua. Memasuki area wisata yang dikelola oleh desa ini hanya dikenakan tarif Rp.3.000 per orang dan kita bisa melihat pemandangan didalamnya sepuasnya tetapi gelap dan bau kotoran kelelawar tadi…xixixi. Untung didekat mulut goa terdapat payon atau semacam atap biar gak kena rambut pengunjung

goa ngerong rengelGua ngerong tidak lepas dari legenda atau mitos didalamnya. Salah satu legenda yakni adanya Putri Ngerong yang bertapa di dalam gua hingga lampus (menghilang raganya) namun menurut kepercayaan kadang sang putri menampakkan diri ditengah kerumunan peziarah. Selain itu keberadaan ribuan ikan dan kura-kura (bulus-orang sekitar menyebutnya) diyakini merupakan jelmaan bidadari dan Senopati Kerajaan Gumenggeng yang dikutuk Dewa karena membuat kesalahan.

Sedangkan mitosnya yakni siapa saja yang berani membawa pulang ikan yang ada didalamnya maka akan mendapatkan ciloko atau sial bin musibah. Bahkan ada yang menyebutkan mereka yang berani membawa pulang ikan-ikan itu akan dihantui hingga ikan-ikan itu dikembalikan. Bahkan juga ketika ikan terlanjur dimasak dan tinggal tulang belulangnya maka juga harus dikembalikan ke dalam aliran sungai gua ngerong ini. Beberapa mitos inilah yang membuat ikan-ikan di sekitaran gua ngerong tetap lestari hingga kini. Namun pengecualian bagi ikan-ikan yang ditangkap diluar area gua ngerong atau setelah jembatan meskipun masih dalam satu aliran sungai gua ngerong…hehehe. Ikan diluar gua ngerong ini bisa dibawa pulang dan dimakan dengan aman. Rasionalisasi mengapa ikan-ikan di sekitaran gua ngerong tidak boleh dikonsumsi karena daging ikan mengandung zat amonia NH3 yang berasal dari kotoran kelelawar. Daging ikan yang dimakan tentu akan membahayakan tubuh manusia bahkan bisa berujung keracunan dan kematian.

goa ngerong tubanSiapapun yang melihat ribuan ikan disungai ini memang akan tergoda untuk menangkapnya dan melahapnya. Ikannya mulai dari ikan gabus yang besar hingga lele-lele seukuran orang dewasa. Biasanya mereka memakan brondong (popcorn), roti, klenteng (biji kapuk), serta makanan lain yang dijual disekitaran area gua ngerong ini. Ketika kita mengumpankan makanan tadi maka ikan-ikankan beberebutan  yang terlihat begitu indah. Diatasnya terdapat ribuan kelelawar yang bergelantungan dengan mengeluarkan bau khas kotorannya.  Kalau kita sedang mujur maka bisa melihat penampakan kura-kura atau bulus tadi bahkan ikan (mistis) yang tidak bertulang tadi akan terlihat…hehehehe.

Gua Ngerong ini pernah dilakukan ekspedisi kedalamnya dari salah satu TV Nasional beberapa tahun silam. Ternyata didalamnya terdapat air terjun mini dimana masyarakat sekitar menyebutnya dengan “Grojogan Sewu”. Untuk memasuki Gua Ngerong ini mesti dilakukan pada sore atau malam hari ketika ribuan  kelelawar keluar goa untuk mencari makan. Selain itu sebelum memasuki goa juga perlu melakukan ritual atau kulonuwun ke penjaga goa ngerong dengan dipandu oleh kuncen goa ngerong ini.

Ledakan pengunjung biasanya terjadi pada “Jum’at Pahing” dimana masyarakat atau pengunjung percaya bahwa dengan membasuh muka atau raup banyu dengan air kali Gua Ngerong maka akan dimudahkan segala urusan, rezeki lancar, jodoh mendekat dan beberapa kemudahan urusan duniawi yang lain. Gak tahulah soalnya KHS kalau kesini belum pernah ketika hari jum’at pahing diatas meskipun tetangga-tetangga KHS pernah melakukannya…hehehehe. Selain itu kita juga bisa berenang dan mandi disini dengan menyewa pelampung kalau memang takut tenggelam. Mandi dan bersentuhan dengan ribuan ikan tadi tentu sesuatu banget…hehehe

ikan dan kelelawar goa ngerong rengelBeberapa wahana yang ada disana sudah mulai kusam sehingga butuh sentuhan. Patung-patung juga sudah mulai mreteli sehingga perlu direcovery ulang dan penataannya yang lebih “wow” sehingga sedap dipandang mata. Mestinya pemerintah kabupaten tuban kudu Tanggap dengan salah satu wisata alam ini meskipun sepertinya yang lebih berperan pemerintahan desa-nya.

Monggo manteman masbrow dan mbaksis yang mau merapat silahkan disetting GPSnya  ke Latitude -7.059327,112.007318. Atau kalau naik bus jurusan Tuban-Bojonegoro via Rengel maka pasti akan langsung turun didepan Wisata Alam Goa Ngerong ini.

Maturnuwun.

About these ads

Mlaku2 Gresik-Tawangmangu

Acara ini merupakan rangkaian HUT Gresik Pulsar Community (GPC) yang ke-5 (postingan disini) dan menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Kawan-kawan GPC mengadakan turing pada hari Sabtu-Minggu 14-15 Juli 2012 ke Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Saya rasa kawan-kawan sudah tahu ada apa di Tawangmangu selain jalanan yang menggoda kearah sana..ya Grojogan Sewu. Sebuah pesona air terjun dengan kera-kera alam berkeliaran. Oia kawan mlaku-mlaku (jalan-jalan), blakrakan atau turing ini juga sekaligus inreyen visor cs1 ane yang terpasang sempurna…hehehehe (postingan disini).

Perjalanan ke Tawangmangu dibagi menjadi 3 gelombang karena keluangan waktu masing-masing anggota. Kloter pertama berangkat Sabtu (13/7) pagi jam 08.00 WIB dimana rombongan sangat banyak sekitar 10 motor dengan beberapa boncenger. Kloter kedua berangkat jam 11.04 WIB dimana ada 3 biker termasuk ane.  Rencana awal ane ingin berangkat pagi namun tidak memungkinkan karena harus ganti kampas rem depan dahulu diberes Gresik (postingan menyusul yah..). Dan kloter terakhir paketu GPC sendiri bersama istri berangkat sekitar jam 12.30 dari Surabaya langsung ke Tawangmangu.

Rute yang ane lalui untuk menuju Tawangmangu yang berjarak 227 km (menurut mbah google lho…) yakni Gresik-Lamongan-Bojonegoro-Padangan-Ngawi-Magetan-Tawangmangu. Berhubung kami hanya bertiga dan kondisi juga lumayan sepi maka Gresik-Bojonegoro dilibas hanya dalam waktu 2 jam alias tepat jam 13.07 WIB. Setelah itu kami merapat disebuah masjid dekat Bengawan Solo, Bojonegoro untuk menunaikan sholat dhuhur sekalian istirahat sebentar.

Jam 14.46 sampai di Watu Jago, Mulyoagung Bojonegoro untuk istirahat kembali sekaligus makan siang. Beberapa kawan mencoba es degan namun ane lebih memilih makan nasi rawon dengan sebotol air putih. Oia kawan sekedar informasi jalan raya Bojonegoro- Padangan-hingga dekat Ngawi konturnya bergelombang sehingga mesti waspada dan hati-hati.  Dan kondisi jalan sedikit terobati ketika mendekati Ngawi dimana kondisi jalan mulus, berkelok mantabz dan sungguh menggoda untuk cornering….hehehe.

Jam 15.32  perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri Ngawi-Maospati, Magetan. Jarak Ngawi-Maospati mungkin hanya 10 km namun begitu kami harus ekstra waspada dengan bus-bus ‘raja jalanan’ Sumber Kencono Group. Sempat ketemu di sekitaran Pabrik Gula dengan Bus Sumber Selamat dan terbukti mereka ngeyel  gak mau ngasih jalan. Ya udah sing waras ngalah…:-D . Namun ketika ada kesempatan maka kami gas pol menjauhkan diri dari ‘cengkraman’ sang pencabut nyawa ini (kalau masih inget postingan disini).

Jam 16.47 ternyata kawan-kawan kloter 1 sudah menunggu di masjid sekitaran KODIM (kalau gak salah, yang jelas masjid punya TNI). Kamipun bertiga merapat untuk bergabung dengan rombongan menuju Magetan kota. Sesampai di Magetan kota rombongan mampir dahulu di Pusat Kulit Jalan Sawo. Beberapa kawan ada yang membeli sandal, sepatu bahkan jaket kulit. Selang beberapa saat paketu GPC kaji dodik beserta istri sudah menyusul rombongan.

Jam 17.36 perjalanan dilanjutkan ‘keatas’ dengan menyusuri gelapnya pegunungan Lawu. Perjalanan malam itu disambut dengan pelukan hawa dingin dan diselimuti kabut tebal. Praktis pandangan hanya berjarak 5-10 meter saja.

Jam 18.57 kami merapat di warung “Mbah Mo” didepan pos pendakian Gunung Lawu. Menu makan malam itu yakni sate kelinci dengan ditemani segelas jahe hangat. Hangatnya hanya bertahan beberapa saat saja karena pelukan kabut masih tebal.  Sepertinya malam itu banyak biker yang sedang turing karena terlihat beberapa biker terutama byson, supra dan beberapa klub yang lain wira-wiri Tawangmangu-Sarangan. Tidak sedikit yang Toet…toet…toet….toet….

Jam 21.11 sudah merapat ke Wisma Giri Mulyo. Sebuah villa yang hanya berjarak 200 meter dari Lokasi Wisata Grojogan Sewu atau 100 meter dari jalan raya Plaosan- Tawangmangu. Villa ini cukup luas dengan sekitar 6 kamar dan beberap double bed.  Malam itu juga tidur dalam kedinginan meskipun tidak sedingin di deket puncak Lawu..hehehehe. ide nyeleneh muncul dari kang mufid yang membangun tenda didalam ruangan dan dibuat tidur…wkwkwkwk

Hari minggu (15/7)  jam 08.23 semua anggota rombongan menikmati sarapan pecel. Gak tahu dari mana pesannya yang jelas sarapan pagi itu begitu nikmat dengan ditemani segelas air teh. Fasilitas teh dan kopi ini seakan air mengalir mulai malam hingga siang selalu available.  Setelah puas sarapan dilanjutkan dengan jalan kaki ke lokasi wisata Grojogan Sewu.

Seinget ane akhir tahun 2007 pernah kesini ketika ada training organisasi kemahasiswaan. Waktu itu sehabis acara dilanjutkan jalan-jalan ke tempat ini. Sekilas tidak berbeda jauh namun kondisi jalan sudah bagus dan bertambahnya beberap wahana permainan seperti rafting dan flying fox.  Memasuki area wisata kita akan disambut dengan toko-toko kecil yang menjajakan makanan khas, bunga maupun buah-buahan. Sedangkan seberang kiri telah siap beberapa kuda wisata bagi yang ingin merasakan sensasi berkuda menuju tempat air terjun atau hanya sekedar berputar-putar disekitar arena wisata.  Untuk turun ke air terjun naik kuda kalau tidak salah tarifnya 50 ribu.

Tiket masuk sebesar 6 ribu per orang. Di sekitaran tempat tiket kita sudah disambut dengan kera-kera liar yang sering kali usil. Kalau tidak punya nyali bin keberanian jangan mendekat karena kera-kera ini lumayan agresif.  Menuruni tangga ke lokasi air terjun membutuhkan waktu sekitar 15 menit kalau tanpa istirahat.  Disamping kiri-kanan atau diatas pohon akan banyak kera-kera yang juga bergelayutan.  Jangan coba-coba membuat gerakan seperti mau ngasih makan ke kera karena anda akan diserbu langsung. Selain itu jika anda mengasih hanya satu makanan padahal ada dua kera maka akan ada perkelahian untuk memperebutkan makanan dari anda tadi. Tarung bro…. :mrgreen:

Menuruni tangga ini ane sempat terhenyak antara prihatin dan tersenyum geli, ada kurang lebih 5 orang kakek nenek (manula) yang berjuang keras untuk menuruni tanda. Meskipun beberapa ada yang dipapah namun ane salut akan semangatnya..hehehe. Selang 30 menit dibawah baru ketemu dengan rombongan kakek nenek ini.  Bayangan ane menuruni tangga ke lokasi Grojogan Sewu seperti ketika menuruni air terjun Dholo Kediri (postingan disini) namun ternyata hanya sepertiga…xixixxii :-D.

Kondisi tangga dan pegangan untuk turun bisa dikatakan sangat baik namun begitu dibeberapa ruas terdapat nomor telepon bila terdapat kondisi gawat darurat.  Kontur kemiringan tangga sekitar 55 derajat yang didukung dengan pos istirahat dibeberapa titik atau tempat persinggahan.  Jadi kita tidak perlu kuatir kalau kelelahan mau istirahat atau kalau maksa kecapekan ya bisa duduk ditangga sekalian …hehehehe.

Hari minggu bisa dipastikan ramai wahana wisata Grojogan Sewu ini. Terlihat beberapa orang dari berbagai daerah menyerbu kawasan wisata ini.  Di lokasi air terjun ini sudah terdapat tanda area aman bagi pengunjung seperti dipantai. Debit air seinget ane masih seperti 5 tahun silam dan yang tidak pernah lupa adalah patung ular berdiri yang menyemburkan air…hehehe. Di lokasi ini anda tidak perlu kuatir kalau tidak sempat membawa kamera digital karena sudah ada beberapa tukang foto yang selalu ready. Ane tidak sempat nanya berapa tarifnya namun bukan foto Polaroid yang langsung jadi. Mereka tetap mencetaknya dengan printer mini portable.

Bagi kawan yang mau mencoba rafting atau flying fox tarifnya kalau tidak salah 11 ribu. Untuk rafting sendiri jaraknya sekitar 250 meter. Jangan kuatir tersayat dengan bebatuan yang ada disekitar sungai karena anda akan dibekali dengan knee protector.  Terlihat beberapa anak-anak mencoba sensasi mini rafting ini dengan muka-muka tegang kwatir hanyut. Ane sendiri lebih suka mengamati tingkah polah liar dan agresif kera-kera mungil. Tidak jarang mereka ‘nguntit’ minuman maupun makan milik pengunjung.  Dan tidak sedikit pula mereka yang berkelahi karena memperebutkan makanan dari pengunjung dan yang tidak tahu malu beberapa kera ada yang kimpoi ditengah jalan…wkwkwkwkkw. :cape dech:

Jam 10.45 ane memutuskan naik ke atas.  Dengan penuh perjuangan karena kurang olah raga ane mendaki anak tangga yang katanya berjumlah 1250 anak tangga. Dibeberapa sudut terlihat aksi vandalism berupa corat-coret dan ane pun ikut-ikutan nempelin stiker blog…hehehehe. Tapi kelihatannya lebih cakep deh papan pengumumannya….Mohon maap yach…lebih baik stiker daripada spidol marker… :mrgreen:

Jam 12.15 rombongan prepare untuk kembali ke Gresik. Kondisi cuaca begitu cerah meskipun kabut tetap tidak bisa dihalau menyelimuti Gunung Lawu. Rute yang dipilih tetap lewat Sarangan dengan mencoba melewati beberapa jalur lawas alias jalur lama yang lebih sempit.  Tanjakan – tikungan sungguh menggoda untuk melakukan cornering lagi..xixixixixi. :-D . Di pinggir jalan ini ketemu lagi juga dengan beberapa biker dari byson dan vixion yang sedang turing.

Jam 14.30 sampailah dikota Magetan. Ketika berhenti istirahat ane pun mencoba mencari buah tangan untuk keluarga dirumah.  Dan belilah roti bolu kesukaan buah hati ane..hehehehe. Jam 15.00 rombongan merapat di Rumah Makan SUMINAR cabang Ngawi di kota Magetan. Beberapa kawan termasuk ane terlihat emosi karena beberapa menu justru habis seperti rawon. Selain itu pelayanan sungguh lama puoollll….hiks.  Berbeda kalau kita langsung pesan Gurami bakar maka tidak sampai 5 menit pesenan sudah muncul. Beberapa kawan ada yang koment, “ Sepertinya not rekomended untuk kedua kalinya”.

Jam 16.01 Perjalanan dilanjutkan ke Gresik dengan melewati jalur awal ketika berangkat yakni Bojonegoro-Babat-lamongan dan Gresik. Kembali kami merasa was-was ketika melewati jalur Ngawi-Maospati apalagi dengan jumlah anggota yang lebih banyak. Namun kekwatiran itu tidak terbukti karena kami tidak bertemu dengan bus-bus arogan yang beritanya seringkali menghiasi koran tentang kecelakaan. Selamat sentausa hingga keluar dari wilayah Ngawi.

Jam 17.42  WIB terdengar adzan maghrib maka rombongan merapat di sebuah Surau disekitaran Padangan, Bojonegoro. Sehabis itu dilanjutkan dengan ngopi diwarung sebelah masjid agar tidak ngantuk diperjalanan. Tepat jam 18.30 perjalanan diteruskan dengan menggasruk jalanan bergelombang Padangan hingga ke Bojonegoro kota.  Dan gas pun ditarik terus dengan meliuk-liuk melewati bus-bus, truk besar maupun mobil pribadi hingga jam 20.42 WIB merapat di warung sekitarab Stadion Lamongan.

Berhubung sudah malam ane ijin duluan untuk meneruskan perjalan ke rumah. Ane pun kembali membetot gaz ini dengan sepenuh tenaga, bayangan anak dan istri sudah didepan mata..hehehehe. Untung kemacetan yang ane kwatirkan di perempat Duduk dan arah Terminal Bunder Gresik tidak terjadi alias hanya kepadatan biasa. Maka tepat jam 21.03 ane sudah sampai di rumah tercinta dan ketika buka kamar anak istri sudah tidur terbuai dalam mimpinya…xixixixi.

Demikian kawan RR singkat ane uklam-uklam Gresik-Tawangmangu bareng GPC. Sepertinya kapan-kapan pengin sendirian kesana lagi karena ane pribadi belum sempat ke Telaga Sarangan, Magetan.  Dan semoga GPC tetap SOLID dengan mengutamakan TOGETHERNESS and FRIENDSHIP…

ZERO ACCIDENT….

Matoernoewoen

baca juga :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 905 other followers

%d bloggers like this: