Diskusi Pendidikan Inklusi di Ubaya

Diskusi Pendidikan Inklusi di Ubaya

Hari senin (30/5) saya mendapat disposisi untuk mengikuti Diskusi Publik Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di Kota Surabaya yang di selenggarakan oleh Pusat Study Hak Asasi Manusia Universitas Surabaya. Acara ini dilaksanakan di di Auditorium Fakultas Hukum Ubaya yang berlangsung mulai jam 1 siang atau sehabis makan siang hingga jam 4 sore.

Pembicara yang hadir diantaranya Wawan Windarto dari Bappeko Kota Surabaya dengan materi Strategi dan Program Pemerintah Kota Surabaya Dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusi, Sri Sedyaningrum dari Ketua Yayasan Pendidikan BPPS Sekolah Galuh Handayani Surabaya dengan materi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Di Indonesia Studi Kasus Di Sekolah Galuh Handayani Surabaya TK – SD – SMP – SMA – COLLEGE dan pembicara terakhir M. Isa Ansori dari Hotline Pendidikan Jawa Timur dengan materi Menghitung Standard Biaya Pendidikan Sekolah Inklusi.

Sebelum acara diskusi dimulai dibuka dengan lagu oleh Kelompok Mata Hati dengan lagu Hero-nya Mariah Carey, Rayuan Pulau Kelapa dan Negeri diatas awan. Tampilan apik, suara menarik dan segenap talenta yang dimiliki oleh personilnya seolah menghisap apresiasi dan empati peserta diskusi. Oia kawan Kelompok Mata Hati ini adalah kelompok seni music yang para personilnya sebagian besar mengalami ketunaan (tuna netra).

Berbicara inklusi dalam hal ini tidak terlepas dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yakni mereka yang secara signifikan berada diluar rerata normal, pada aspek fisik, motorik, indrawi, mental, sosial, dan atau emosi, sehingga memerlukan pelayanan khusus.  Sedangkan klasifikasi ABK sebagai berikut :

  1. Tunanetra/gangguan penglihatan
  2. Tunarungu/gangguan pendengaran
  3. Tunadaksa/gangguan gerekan/kelainan anggota tubuh
  4. Tunagrahita/keterbelakangan kemampuan intelektual
  5. Anak lamban belajar
  6. Anak kesulitan belajar
  7. Anak berbakat (memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa)
  8. Tunalaras/kelainan tingkah laku dan sosial
  9. Anak dengan gangguan komunikasi

Anak ABK juga mempunyai hak dan akses yang sama terhadap pendidikan yang layak. Menurut data dari Bappeko di Surabaya terdapat 41 Sekolah Inklusi tingkat SD, 5 Sekolah tingkat SLTP dan 2 sekolah tingkat SLTA.

Sedangkan dari Galuh Handayani menjelaskan secara empiris pelaksanaan pendidikan inklusi mulai dari tingkat SD hingga College. Selain itu juga dipaparkan bahwa Sekolah Galuh Handayani memiliki metode atau laboratorium tritmen untuk mendeteksi dan mengklasifikasi anak-anak ABK.  Menurut Ningrum, Lab ini merupakan satu-satunya Lab di Indonesia yang menggunakan metode konperehensip.

Isa Anshori lebih memaparkan biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk mengkover dan menyediakan dana bagi ABK. Menurut data Dinas Sosial Kota Surabaya tahun 2008 terdapat 955 anak ABK sedangkan biaya yang harus dikeluarkan menurut perhitungan pria berkacamata ini sebesar Rp.1.212.000 per anak.

Berbicara pendidikan inklusi maka tidak hanya pada penyediaan fasilitas saja namun SDM pendamping dan sarana dan prasaranan juga perlu di perhatikan. Bahkan dalam diskusi ada seorang guru inklusi tingkat SD curhat bahwa selama 5 bulan ini belum mendapatkan gaji. Menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkan pelayanan prima dan sempurna bagi ABK. Mari Wujudkan Surabaya Kota Layak Anak !

***\Contact KHS Go Blog/***
Main blog : http://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

*" Yuuuk like & share brosis...."*
-----

Comments

comments

4 Comments

Monggo dikomeng gans..

Translate »