(Bukan) Solo turing ke Solo

(Bukan) Solo turing ke Solo


Semua bermula dari telpon berdering tengah malam memecah  kesunyian tidur mendengkur.  Telepon ke hape istri terdengar sayup-sayup dari Solo mengabarkan bahwa pak dhe meninggal dunia. Bak di setrum kulihat wajah istriku pucat pasi, sedih, dan hiks..hiks…sedikit meneteskan air mata. Maka malam itu pula diputuskan harus ke Solo segera. Setelah melalui pertimbangan setengah sadar (maklum masih ngantuk berat) ane memutuskan istri, anak dan emak mertua naik bus sedangkan ane sama pak lik dan bu lik sepeda motoran. Alias turing….wkwkwkwk 😀 . oia sebelumnya bapak mertua sudah pulang duluan karena memang pak dhe dah sakit duluan.

Pada sabtu (16/4) pagi jam 01.30 ane menganterkan istri ke Pom Bensin di Bunder untuk mencari bus yang akan mengantarkan ke terminal Bungurasih Surabaya. Setelah menunggu hampir 30 menit akhirnya datang bus AKAS tujuan jember maka tak banyak cincong langsung naik. Ane sendiri masih tertinggal di Pom bensin untuk menunggu pak lik sama bu lik yang masih kemas-kemas di rumah. Selang satu jam kemudian kami berangkat.

Jalur ke Solo kami putuskan lewati Lamongan, Bojonegoro, Padangan, Ngawi, Mantingan, Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo. Walaupun malam sepi ane tidak bernapsu untuk menggeber Milestone terlalu dalam hanya econo riding yakni 70-80 km/jam aja. Ketika jam 03.46 nyampai Babat kami berhenti karena pak lik perutnya lapar sedangkan perut ane mules. Akhirnya cari pom bensin di Babat sekalian BAB di toilet yang di sediakan.

Jam 04.09 perjalanan dilanjutkan melalui Baureno, Sroyo, Sumberjo, Balen, Kapas, Bojonegoro, Kalitidu. Disini ane merapat sebentar untuk absen pagi sama Yang Di Atas alias sholat subuh di masjid dekat jalan raya. Kurang lebih 10 menit menunaikan sholat, ane melanjutkan perjalanan lagi menuju Padangan. Dari Padangan belok ke kiri arah Ngawi.

Jam 06.30 kami berhenti di Pom Bensin Ngraho karena matic –nya pak lik ‘kehausan’ perlu minum. Ini minum yang kedua kali setelah sebelumnya ‘minum’ di pom bensin Babat. Sedangkan Milestone masih belum minum karena sebelumnya hari rabu (13/4) sudah minum duluan. Selain irit kapasitas tangki pulsar bisa di andalkan. Top markotob…mantab surantab.

Perjalanan kami lanjutkan melewati Ngraho, Margomulyo, Ngawi kota, Kedunggalar. Di kedunggalar kami berhenti untuk sarapan dulu. Kulihat jam menunjukkan waktu 07.14. Pagi itu ane memilih menu mie goring plus telur kesukaan ane. Ditemani teh hangat dan kerupuk mlempem (sudah terlanjut di sobek bungkusnya) ane menghabiskan sepiring nasi walaupun juga tidak habis semuanya.

Setelah cukup kenyang dan otot-otot mulai rileks, kami lanjutkan perjalanan dengan jam menunjukkan pukul 07.53. rute selanjutnya Mantingan, Sragen, Masaran, dan daerah yang lain yang menuju ke arah  Solo. Seinget ane masuk Sragen Kota trus menuju Karanganyar.

Dari arah karanganyar kami mengambil arah kiri dari bunderan Palur. Karena tidak tahu nama daerahnya ane ngikut aja petunjuk dari pak lik yang sudah hapal rutenya. Yang jelas dari bunderan Palur ke kiri terus ke kanan dan ke kanan lagi yang ujung-ujungnya dekat dengan Terminal Sukoharjo.  Dari terminal Sukoharjo inilah kami menggeber menuju Nguter.

Di pasar Nguter sudah menunggu istri sejak sejam yang lalu karena busnya lumayan cepat. Ane melirik jam di dinding menunjukkan pukul 09.39. setelah perjalanan sekitar 15 menit akhirnya kami nyampai di rumah simbok yakni desa Terok dusun Pojok, kecamatan Nguter dan kabupaten Sukoharjo. Disana sudah banyak warga yang melayat. Pak Dhe di kuburkan jam 1 siang setelah sholat dhuhur. Sembari menunggu dikuburkan tubuh ane tidak kuat lagi, rasa pegal dan kantuk berlebihan memaksa ane untuk mojok cari kursi dan terus tidur (tanpa mendengkur lho..). jam 12.43 prosesi menuju kuburan sudah disiapkan. Tepat jam 14.03 pak dhe sudah berpindah dari peti ke liang lahat. Semoga dilapangkan kuburnya dan mendapat nikmat kubur…Amin ya Rabb.

Perjalanan Gresik-Solo sekitar 273 km terlihat di odometer ane sedangkan waktunya relative lama yakni hampir 6 jam perjalanan termasuk istrirahat. Selain itu, kami tidak terlalu menggeber dengan penuh emosi karena ingat pesan : titi dj dan keep safety riding.

Mingggu (17/4) pagi jam 08.31 kami ijin pamit duluan. Rencana hari itu silaturohim dulu ke simbah dari emak mertua di desa Ngricik kecamatan kabupaten Sukoharjo. Setelah itu mengantarkan istri ke terminal tertonadi di Surakarta. Sebelumnya istri pingin nunggang pulsar saja tapi ane berpikir ini akan terjadi KEKERASAN terhadap ANAK. Oia anak ane berumur 13 bulan, bisa dibayangkan kalau berjam-jam di atas sepeda motor. Memang sich kalau mudik ke Tuban selalu naik Pulsar tapi waktunya tidak lama hanya sekitar 2 jam saja. Lha ini Solo-Gresik….

Ketika silaturohim ke Simbah ternyata beliau juga pengin ke Gresik sehingga ane sangat senang ada yang menemani anak dan istri ketika naik bus. Maka jadilah ane Solo Turing menuju Gresik. Jam menunjukkan pukul 09.57 ane meninggal rumah simbah menuju arah Wonogiri. Di pertigaan pintu gerbang kabupaten Wonogiri ane minggir sebentar untuk narsis dulu.

Dalam perjalanan pulang ini ane mengikuti rute ketika berangkat sambil mengingat-ingat nama dan arah jalannya. Dari Wonogiri ane geber terus ke barat menuju Sukoharjo. Di depan terminal Sukoharjo ane ambil kanan yang kea rah Solo atau Karanganyar. Geber terus ke Utara (?) hingga tidak terasa sudah sampai di bunderan Palur. Dari sini muter mengambil arah Surabaya melalui Sragen. Ketika sampai di Masaran Saragan ane merapat ke pom bensin karena indicator merah sudah menyala walaupun sebenarnya masih kuat sekitar 50 km lagi.

Dari Masaran ane geber menuju Mantingan Ngawi. Di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini ane sempatkan narsis dulu untuk dokumentasi. Sambil istirahat ane sms teman di Ngawi rencana mau mampir karena sudah hampir 6 tahun tidak ketemu pasca lulus dari IMKI Prima Madiun tahun 2003 Silam. Akhirnya janjian ketemu di warnet Elmi.com. setelah ngobrol ngalur kidul ditemani frestea ane mohon ijin untuk meneruskan perjalanan menuju Gresik via Padangan- Bojonegoro. Jam menunjukkan pukul 14.06

Kondisi jalan Ngawi-Bojonegoro bisa dibilang kurang nyaman. Jalan berlubang, tidak merata aspal serta kontur tanah yang memang tanah pegunungan. Sekitar jam 15.35 ane merapat di masjid jl. Gajah Mada Bojonegoro untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang makhluk ber-Tuhan. Ane jamak qosor sekalian untuk sholat dhuhur dan ashar. Jam 15.41 perjalanan di lanjutkan menuju Surabaya. Berhubung perut keroncongan belum makan siang maka ane mampir dulu ke warung Soto Ayam Jawa di Sukodadi Lamongan. Sambil sms dengan istri kalau dia baru nyampai Mojokerto. Jam 17.03 perjalanan dilanjutkan kembali ke Gresik. Alhamdulillah jam 18.06 nyampai rumah dengan kondisi sempurna dan selamat. Kondisi badan bisa anda bayangkan sendiri antara pegal dan pusing-pusing. Jam 19.46 menyusul istri sama simbah yang sudah nyampai terminal Bunder Gresik.

Dari perjalanan panjang Gresik-Solo Pulang Pergi ini ane banyak mengambil hikmah. Kondisi badan dan kendaraan harus fit sehingga tidak mengganggu perjalanan. Tariklah gas sesuai kebutuhan dan kondisi jalan sehingga tidak membahayakan rider di sekitarnya. Kalau ngantuk berat minggir sebentar di jalan untuk sedikit peregangan atau bahkan tidur beberapa menit. Dan overall jangan lupa berdoa dan minta do’a teman-teman yang lain. Matoernoewoen.

 

 

 

 

baca juga :

***\Contact KHS Go Blog/***
Main blog : http://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

*" Yuuuk like & share brosis...."*
-----

Comments

comments

4 Comments

Monggo dikomeng gans..

Translate »