Advertisements

Ngerumpi PPKtP dan Trafiking di Batu

Ngerumpi PPKtP dan Trafiking di Batu
Pada hari senin kemarin (11/10) ane diminta kantor untuk menghadiri workshop tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan (PPKtP) dan Trafiking, tempatnya di hotel Kusuma Agro Wisata, Batu, Malang. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Jawa Timur.
Berangkat dari gresik sekitar setengah tujuh pagi dengan menggeber si Revolta menuju terminal Bungurasih. Sejam kemudian sudah duduk diatas Bus Patas Menggala. Sengaja saya tidak pakai motor seperti biasanya hanya sekedar untuk mengingat kembali ketika menjadi Backpaker. Dengan karcis 15.000 akhirnya 2 jam kemudian nyampai di Arjosari  Malang. Porong yang selama ini ku kwatirkan macet sama sekali tidak terjadi.
 Setelah rehat sebentar, jam 11.30 ane masuk angkot ADL yang akan membawa ke Landungsari. Salah satu terminal di Malang yang menjadi sasaran Bus-Bus dari arah Jombang. Di angkot ini ternyata banyak juga orang yang mau ke Batu walopun acara dan tempatnya juga berbeda-beda.Akhirnya hanya 30 menit sudah masuk terminal yang cukup sepi ini. Oia ongkosnya 3500 perak
Loncat lagi ke angkot BL yang akan membawa saya dan orang-orang yang kan pergi ke Batu. Setelah menunggu angkot penuh, akhirnya angkot melenggang meninggalkan Landungsari menuju kota Batu. Perjalanan tidak sampai 30 menit akhirnya sampai juga.
Mau jalan ke kaki ke Hotel tempat acara, namun apa daya ketika tepat diatas kepala ini. Setelah celingukan akhirnya saya samperin tukang ojek untuk nganterin ke tujuan. Dengan ongkos 10.000 perak (sebenarnya 6000 sudah mau, tapi ndak apalah itung-itung sedekah…tul gak?). perjalanan berakhir jam 12.15 di Hotel Kusuma Agro Wisata.
Reservasi sebentar untuk cari kamar dan tidak lama kemudian dapatlah kamar 132 dimana seruang dengan mas didik dari (RSUD ) Madiun. Setelah menaruh tas yang berat ini saya menuju meja registrasi untuk mendaftar sebagai peserta aktif. Panitia mempersilahkan untuk makan siang, bak gayung bersambut ane langsung menuju meja prasmanan yang telah disediakan.
Pukul 14.17 acara baru dibuka oleh Kepala Dinkes Jatim dimana telat sekian jam dari jam 13.00 yang dijadwalkan semula. Namun ada yang menarik dari backdrop yang dipasang disana. Penulisan trafiking menjadi TREVIKING…hehehe (English kaleee). Setelah itu dilanjut pemaparan dari Kemenneg PP dan PA yang menjelaskan SPM pelayanan kesehatan bagi Korban Kekerasan maupun Trafiking.
Mulai serius…

Hari pertama ini dijejali dengan materi dan konsep tentang PPKtP dan Trafiking dengan pembicara dari Dinas, Kementerian, Akademisi dan LSM. Semua sepakat bahwa KDRT dan Trafiking harus dicegah dan diberantas hingga ke akar-akarnya namun yang menjadi masalah bagaimana solusi penanganan bisa dilaksanakan secara integral ?
Hari kedua (12/10),

Berbicara penanganan tentu melibatkan banyak pihak, tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja namun swasta dan masyarakat juga harus terlibat. Keberadaan PPT di setiap kabupaten / kota diharapkan mampu menjadi katarsis bagi penanganan KtP/A dan Trafiking. Konsep PPT yang satu atap maupun jejaring jangan terlalu dipermasalahkan toh semua demi kepentingan dan kebaikan korban.
Ketegasan penindakan hukum sangat diperlukan, selama ini kasus-kasus trafiking yang ada cenderung menguap entah kemana. Yang menjadi masalah adalah keseriusan kita dalam memberantas trafiking ini sangat dipertanyakan. Pemberian ketrampilan bagi korban KDRT sungguh sangat brilian untuk menghindarkan adanya ketergantungan ekonomi seorang perempuan terhadap laki-laki. Sehingga budaya patriarki sedikit demi sedikit dapat terkikis.
Pelayanan kesehatan bagi korban KtP/A dan Trafiking juga tidak bisa dikesampingkan
dengan didukung regulasi kementerian maka diharapkan Zero Tolerancy itu dapat diwujudkan. Menurut Kementerian Kesehatan diharapkan minimal 2 puskesmas di setiap kabupaten/ kota mampu menangani korban dengan SOP yang telah ditentukan dengan didukung oleh sarana, prasarana dan SDM yang professional.
Akhirnya, tepat matahari diatas langit acara ditutup oleh panitia
Setelah ‘registrasi penutupan’ saya langsung berkemas dikamar untuk kembali ke Surabaya. Dengan ojek juga ane menuju terminal Batu. Kali ini ane memutuskan naik angkot Batu-Karangploso untuk melihat salah satu pedalaman Batu dan Malang. Angkotan B-K adalah salah satu
alternative. Perjalanan kurang lebih 45 menit menuju pasar KarangPloso dengan ongkos 3000 perak. Dari sini over lagi dengan angkot K-A menuju Karang Lo untuk mencari Bus/Angkutan menuju Surabaya. Oia ongkosnya 2500 perak.
Berhubung ane ada niat mampir di Republik Telo ane memutuskan naik Mikrolet dengan ongkos 3000 perak. Akhirnya nyampai walopun harus nge-tem hampir 38 menit walopun kalau normal tidak sampai 20 menit dari Karang Lo menuju Lawang. Di Republik telo ane beli kukus telo,
bakpia telo kering dan basah buat oleh-oleh teman-teman baik di kost, kantor maupun anak dan istri di rumah.
Setelah sholat jamak takhir ane melanjutkan perjalanan naik bus menuju Surabaya. Bus Laksana Anda sudi membawa saya ke Surabaya walaupun katanya Bus Patas dilarang menaikkan penumpang di tengah jalan. Alhamdulillah perjalanan 1,5 jam berlangsung terlelap dalam buaian mimpi kurang indah.
Akhirnya, Surabaya sudah sampai….
Kembali dalam kepenatan dan kepadatan sebuah kota metropolitan.
Kembali dalam rutinitas harian sebagai seorang pekerja (buruh) Negara…hehehe
***\Contact KHS/***
Main blog : http://www.setia1heri.com
Secondary blog : http://www.khsblog.net
Email : setia1heri@gmail.com ; kangherisetiawan@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/setia1heri
Twitter : @setia1heri
Instagram : @setia1heri
Youtube: @setia1heri
Line@ : @ setia1heri.com
PIN BBM : 5E3C45A0

*" Yuuuk like & share brosis...."*
-----
Advertisements

Comments

comments

Monggo dikomeng gans..

Translate »